Yahya bin Mu'adz ar Rozi rahimahullah berkata:
"Hendaknya orang mukmin mendapatkan tiga hal darimu:
1. Jika engkau tidak bisa memberinya manfaat, maka jangan menyusahkanya.
2. Jika engkau tidak bisa membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih.
3. Jika engkau tidak mau memujinya, maka jangan mencelanya." [Tanbihul Ghofilin, 1/178]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
"Orang-orang yang mengasihi dirahmati oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), kasihilah yang ada di bumi nicaya Yang di langit akan mengasihi kalian." [HR. Abu Dawud]
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat." [HR. Bukhari]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Allah akan senantiasa menolong hambaNya, selama hamba tersebut menolong saudaranya." [HR. Muslim]
Terakhir, janganlah juga kita berbuat keburukan (mencela) saudara kita. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
"Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim." [HR. Muslim]
@dedibudika_akmar
https://linktr.ee/mutiaranasihat
Silakan dishare dan disave. Baraakallahu fiikum
PERHATIKAN 3 HAL INI UNTUK SAUDARAMU !!
SYARAT MUTLAK PEMBEBASAN AL QUDS/ MASJID Al AQSHA
بسم الله الرحمن الرحيم والحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:
Sobatku...
Apakah anda ingin mengetahui syarat mutlak pembebasan Palestina dan negara muslim lainnya dari penjajahan dan kehinaan?!?!
Ingin tahu syarat mutlak membebaskan Al Quds yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis tanpa penjajahan sedikitpun dari kaum Yahudi?!?
APAKAH CUKUP DENGAN MENUNJUKKAN BERKUMPULNYA KAUM MUSLIMIN, MENGECAM DENGAN KERAS ATAU YEL-YEL GANYANG YAHUDI, HIDUP PALESTINA Atau semisalnya!
Sobat mari perhatikan beberapa perkara dibawah ini:
Kemenangan kaum muslimin melawan musuh-musuhnya sebuah keniscayaan jika Kaum
Muslimin;
- BERTAUHID TANPA SYIRIK
- MENGAMALKAN SUNNAH TANPA BID’AH
Dalil yang menunjukkan akan hal ini:
- Allah telah menjajikan syarat menjadi adi kuasa adalah BERIBADAH KEPADA ALLAH DAN TIDAK MENSYIRIKKANYYA DENGAN SESUATU APAPUN
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” QS. An Nuur:55.
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kehinaan dan keterpurukan TIDAK AKAN PERNAH DICABUT OLEH ALLAH SEHINGGA KAUM MUSLIMIN kembali kepada agamanya yaitu AJARAN ISLAM
( إذا تبايعتم بالعينة ، واتبعتم أذناب البقر ، وتركتم الجهاد في سبيل الله ـ سلط الله عليكم ذلاً لا ينزعه من رقابكم حتى تراجعوا دينكم )
Artinya: “Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (salah satu sistem ribawi), menguntit ekor-ekor sapi dan meninggalkan jihad di jalan Allah, niscaya Allah menimpakan kepada kalian kehinaan, tidak dicabut kehinaan tersebut dari diri kalian sampai KALI. KEMBALI KEPADA AGAMA KALIAN”. HR. Ahmad dan Abu Daud
SEJARAH MEMBUKTIKAN!
- PERKATAAN UMAR BIN KHATTAB radhiyallahu ‘anhu KETIKA MENAKLUKKAN BAITUL MAQDIS
(نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة من دونه أذلنا الله)
Artinya: “Kita adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka walau bagaimanapun kita mencari kemuliaan dengan selainnya, NISCAYA ALLAH HINAKAN KITA”.
- PERKATAAN ABU AD DARDA’ radhiyallahu ‘anhu kepada Jubair bin Nufair rahimahullah KETIKA MENAKLUKKAN QOBROS.
(ويحك يا جبير ، ما أهون الخلق على الله عز وجل إذا أضاعوا أمره ، بينما هي أمة قاهرة ظاهرة لهم الملك تركوا أمر الله فصاروا إلى ما ترى) .
Artinya: “Celaka engkau wahai Jubair, alangkah hinanya makhluk di hadapan Allah Azza wa Jalla jika mereka meremehkan perintah-Nya, dan padahal ia akan menjadi umat yang berkuasa dan berjaya, memiliki kekuasaan, TETAPI MEREKA TELAH MENINGGALKAN PERINTAH ALLAH, akhirnya mereka akan menjadi umat seperti yang kamu lihat.”
TERNYATA SYARAT MUTLAKNYA ADALAH KEMBALI KEPADA ISLAM yang Intinya adalah DUA KALIMAT SYAHADAT:
- LAA ILAAHA ILLALLAH = BERTAUHID TANPA SYIRIK
- MUHAMMADUR RASULULLAH = MENGAMALKAN SUNNAH TANPA BID’AH
Inilah fikih realita...
Itulah mengapa dakwah salaf senantiasa mengajak umat Islam menuntut ilmu agama yang benar dengan pemahaman yang benar agar mengetahui tauhid sehingga menjauhi kesyirikan dan mengetahui amalan sunnah sehingga tidak terbawa hawa nafsu melakukan bid’ah, sehingga kejayaan dan kemuliaan iyu sebuah keniscayaan bagi umat Islam.
Inilah fikih realita...
KAUM YAHUDI TIDAK AKAN PERNAH TAKUT KALAU HANUA SEKEDAR DENGAN YEL-YEL!
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary
Jakarta, Jumat 04 Rabiuts Tsani 1439H
HISAB DIRI SEBELUM DI HISAB
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا ، أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
"Hisablah dirimu semua sebelum (nanti) dihisab, dan timbanglah dirimu sebelum (nanti) ditimbang, karena nanti hisabmu akan lebih mudah jika engkau "evaluasi" dirimu sekarang, hiaslah dirimu (dengan beramal shalih) untuk Pertemuan Akbar (besar).
(Az-Zuhud hal 120 oleh Imam Ahmad, & Hilyatul Auliya' I/52, dan Muhaasabatun Nafs hal 22 oleh Ibnu Abid Dunya)
'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata :
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
"Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap, & keduanya memiliki anak-anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, & janganlah menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) tempat beramal tanpa ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) tempat hisab (perhitungan) & tanpa ada kesempatan beramal" (Bukhari no.6417)
Abu ad-Darda' رضي الله عنه berkata :
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata :
Al-Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata :
Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata :
اَللّٰهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَاباً يَسِيْرًا ، وَ يَمِّنْ كِتَابِيْ
Ya Allah hisablah diriku dengan hisab yg Mudah, & berikan di Tangan Kanan kitab (catatan amal)ku...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
EMPAT AKHLAK MULIA YANG MEMASUKKAN KE SURGA
وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَّامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ! أَفْشُوا السَّلَام، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ». أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.
Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, jalinlah silaturahmi, berikanlah makanan, dan shalatlah di malam hari saat orang-orang sedang tertidur, maka kalian masuk surga dengan selamat.”
H.R. At-Tirmidzi [2485]; dan beliau menilainya sebagai hadits shahih.
———————————————————
📖 Petikan Pelajaran dari Hadits
■1. Bersemangat untuk menyebarkan salam.
Arti menyebarkan salam sesuai namanya: “menyebarkan”. Yaitu mengucapkan salam kepada tiap muslim yang ditemui, kenal maupun tidak.
Harus mengingat, bahwa tidak kecil keutamaan menyebarkan salam. Ia satu dari empat amalan yang membawa kita ke surga.
Jika penghalang menyebarkan salam adalah rasa sungkan dan kecenderungan tertutup, alangkah baiknya jika ditekan bertahap. Mulai ucapkan salam kepada orang-orang yang dikenal, lalu orang-orang yang tidak terlalu akrab dan sekedar tahu, bertahap untuk membiasakan.
Lagi pula, di mana salahnya ‘menyebarkan salamʼ sampai kita harus merasa berbuat yang memalukan?!
■2. Menjalin silaturahmi adalah hal yang penting.
Apalagi seperti zaman kita sekarang. Subhanallah. Kesibukan atau berbagai aktivitas pengganti yang seperti tidak ada habisnya, kadang membuat lupa bersilaturahmi.
Menjalin silaturahmi dilakukan dengan: berbuat baik kepada karib kerabat; membantu, mengunjungi, menanyakan kabar mereka; dan yang serupa itu.
■3. Berbagi makanan kepada orang-orang susah dan membutuhkan ialah ibadah besar.
Walaupun mungkin nominal uang yang dikeluarkan tidak terlalu besar, tapi sangat berarti untuk yang diberi. Lebih dari itu, ia juga amalan yang menjadi sebab pelakunya masuk surga.
■4. Keutamaan shalat malam di jam orang-orang tengah tertidur. Dan yang paling afdalnya, di kisaran sepertiga akhir malam.
Melaksanakannya di kisaran waktu tersebut jelas tidak ringan. Namun, keutamaan shalat ini besar.
Shalat malam, meskipun singkat, semisal hanya dua atau empat rakaat, kemudian ditambah satu rakaat witir; tetapi hasilnya sangat mengagumkan dalam menyuburkan iman di hati dan membangunkan rasa nikmatnya beribadah. [Minhah al-‘Allam (10/361)].
Dengan mengingat manfaatnya, semoga menjadi alasan untuk kita berusaha bangun malam dan shalat.
■5. Empat amalan diatas ialah sebab masuk surga.
Jadi, empat amalan ini seakan merupakan sebab bagi pelakunya mendapatkan husnul khatimah.
Dengan dalil, “... maka kalian masuk surga dengan selamat.”
Artinya: sampai tutup usia, kondisi ibadahnya baik. Karena inti penilaian pada seseorang ialah kondisi terakhir di kehidupannya.
Rutin menjaga empat amalan ini dapat membuat seseorang selalu diberi hidayah; juga dijauhkan dari perilaku dan sikap yang membuat nilai ketaatannya hancur. [Fiqhu Bulugh al-Maram (5/195)].
✍ -- Hari Ahadi @ Kota Raja
Serial Hadits Kitabul Jamiʼ | Bab: Motivasi Berakhlak Mulia
semoga bermanfaat, fastabiqul khairat
SHALAT 60 TAHUN TIDAK PERNAH DITERIMA
Pernahkah kita membayangkan ada orang yang mengerjakan shalat selama hidupnya, namun shalatnya itu tidak di terima ??
📌 عن أبـﮯ هريرة رضـﮯ الله عنـہ أن رسول الله ﷺ قال :
❐ إنَّ الرجلَ ليُصلِّـﮯ ستِّينَ سنةً وما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعلـہ يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتــمُّ الركوعَ .
📗 الألباني صحيح الترغيب ٥٢٩
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
"Sesungguhnya ada seorang yang mengerjakan shalat selama enam puluh tahun akan tetapi ia tidak diterima shalatnya.
Mungkin karena ia tidak menyempurnakan rukuknya, tidak menyempurnakan sujudnya, menyempurnakan sujud tapi tidak menyempurnakan rukuk."
[Shahih At-Targhib 529].
Rasulullah -shallallahu'alaihi wa sallam- bersabda,
❐ أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا أَوْ قَالَ لاَ يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Manusia paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari shalat.”
Mereka (para sahabat) berkata,
“Bagaimana ia mencuri shalatnya?”
Beliau bersabda,
“Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya”, atau beliau bersabda, “Dia tidak meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud.”
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/310). Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (No. 885)]
Sebagian orang ada yang tergesa- gesa berwudhu sehingga bukan saja tidak sempurna wudhunya, tapi juga ada sebagian anggota tubuh yang tidak basah terbasuh air, yang demikian Wudhunya tidak Sah maka shalatnyapun menjadi tidak sah.
Coba kita perhatikan hadits berikut ini :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَرضي الله عنهم قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ.
Dari ‘Abullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Celakalah tumit yang tidak terbasuh air wudhu dengan api neraka.”
[HR. Bukhari, No. 165 dan Muslim, No. 241].
Maka, marilah kita senantiasa memperbaiki amalan shalat kita, sudahkah shalat yang kita kerjakan sesuai dengan tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-?
Sudahkah shalat kita memenuhi syarat dan rukunnya?
Abu Syamil Humaidy حفظه الله
Barakallahu fiikum..
3 PENGHALANG HIDAYAH (Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib)
Kisah Kematian Abu Thalib, menginggatkan kita minimal
3 SEBAB PENGHALANG HIDAYAH
Abu Thalib adalah seorang yang berilmu, sangat dekat dan seringkali didakwahi oleh guru terbaik umat islam yaitu Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam.
Namun mengapa Abu thalib tidak mendapat hidayah?
● SEBAB 1 : KAWAN YANG BURUK
Berteman dengan orang orang yang buruk dapat menjerumuskan seseorang dalam kesesatan dan terhalang mendapatkan hidayah
Allah Ta'ala Berfirman :
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
"... Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) TIDAK MENJADIKAN SI FULAN ITU SEBAGAI TEMAN DEKAT(KU)".
(QS. Al Furqon : 28)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"SESEORANG ITU TERGANTUNG AGAMA TEMAN DEKATNYA. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya".
(HR Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378. ash-Shahîhah no. 927)
Abu thalib berteman dekat dengan Abu jahal. Seorang penentang dakwah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyesatkan abu thalib.
● SEBAB KE 2 : MENGAGUNGKAN BUDAYA NENEK MOYANG YANG BERTENTANGAN DENGAN SYARI'AT ISLAM.
Abu thalib berkeinginan memeluk Agama Islam, tapi abu jahal teman dekatnya selalu menginggatkan tentang ajaran agama dan kebesaran nenek moyangnya.
Allah Ta'ala Berfirman :
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah (Al Qur'an dan Al Hadist),"
Mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami".
(QS. Al Baqarah : 170)
Kelak ketika kita dihisab dihari Kiamat, Allah TIDAK Akan menanyakan Kepada Kita :
"Apakah Kamu Mengamalkan Ajaran Orangtuamu"
"Apakah Kamu Mengamalkan Ajaran nenek moyangmu ".
Bukan itu yang akan ditanyakan.
Tapi Yang akan Allah tanya dan mintai pertanggung jawaban kelak dihari kiamat yaitu " Apakah kita Menagamalkan apa Yang telah Allah Turunkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
● SEBAB KE 3 : KARENA TAKUT CELAAN MANUSIA
Sebuah Syair yang pernah diriwayatkan dari Abu Thalib :
"Sungguh aku telah mengetahui agama Muhammad itu adalah sebaik baik Agama yang dipeluk oleh Manusia"
Lalu mengapa Abu Thalib Tidak masuk Islam?
"Kalaulah bukan takut celaan atau menghindari cacian orang, maka aku akan masuk Islam"
Salah satu sebab manusia tersesat karena takut dicela, dicaci dan takut dikucilkan oleh keluarga , masyarakat dsb.
Berhati hatilah saudaraku dari penyebab terhalangnya Hidayah.
Sebagaimana orang-orang yang mewarisi ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terus ada hingga kiamat.
Begitu pula dengan pewaris pewaris Abu Jahal yang menentang ajaran Nabi akan terus bermunculan.
Karakter Abu Jahal juga akan terus berulang dalam kurun zaman dan tempat.
Wallahu'alam
HUKUM TIDUR SETELAH ASAR
Hadits terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah,
من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه
Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri.
Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112).
Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan,
لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث
Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69).
Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan,
لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه..
Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar).
Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih,
الأصل في الأشياء الإباحة
Hukum asal perkara duniawi adalah mubah.
Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan
النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة
Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa)
Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan,
لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها.
Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya.
(https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر)
Sekian.
Wallahua’lam bis showab.
🖋️ Ustadz Ahmad Anshori حفظه الله تعالى












